Divan

Mengenang Rumi di Konya, foto oleh havvanur dari pexels

Ada beberapa Sufi-Penyair menulis kitab yang diberi judul Divan.
Bagi Mawlana Rumi divan-nya adalah Divan-i Syamsi Tabriz.

Mawlana Rumi, seorang Waliyullah, bertemu orang suci, wali lain, Syamsi Tabriz.
Yang terakhir ini diberi-Nya peran yang sangat jalal, kebalikan dari Rumi sendiri yang sangat lemah-lembut. Perjumpaan dan interaksi Mawlana Rumi dengan Syamsudin at-Tabriz sangat mempengaruhinya.

Salah satu bentuk hasil yang kita masih dapat syukuri dari perjumpaan mereka itu adalah puisi-puisi yang terucapkan lisan Rumi, yang lalu dicatat murid-muridnya dan dibukukan dalam dua kitab, Matsnavi dan Divan.

Warna Divan sangat berbeda dengan Matsnavi. Jika yang disebut terakhir ini bisa dikatakan merupakan kumpulan nasehat seorang Guru bagi para pejalan; Divan merupakan luapan pujaan, yang kadang sangat personal, kepada Rabb. Karenanya, sementara Matsnavi bisa sangat panjang-lebar mendeskripsikan prinsip-prinsip jalan suluk;  Divan sangat singkat, bernas, pejal, masif, dan karenanya memerlukan penjelasan-pencairan yang tidak sederhana.

Matsnavi menasehati para pejalan ke arah perbaikan diri dengan bahasa yang lemah-lembut; Divan langsung ke inti persoalan sekaligus membuat terperangah mereka yang shalih: alangkah pemurah-Nya Dia mengajari mereka yang dicintai-Nya.

Divan sebuah perayaan Cinta Ilahiah.
Sekelebat-kilat pengetahuan yang diajarkan-Nya kepada dua orang besar, Mawlana Rumi dan Syamsudin at-Tabriz. Dua Lautan ilmu saling berinteraksi. Dua jenis cermin qalb berbeda; dan yang sama-sama merefleksikan keindahan Sang Matahari saling berhadapan dan saling mengagumi keindahan satu sama lain.

Persahabatan dalam Cinta Ilahiah dua Waliyullah ini dikenang sepanjang sejarah.
Kiprah mereka dikenang dan menjadi rujukan para pencari sampai kini.

Kita hanya bisa menduga: alangkah besarnya apa-apa yang Dia percayakan kepada mereka berdua. Divan dan Matsnavi yang dicatat murid-murid Rumi tak lebih dari setetes pengetahuan yang diberikan-Nya kepada mereka. Ilmu yang tak tergambarkan, yang tak terbahasakan tersimpan di dada mereka.

Blog ini hanya mengelus sekelumit permukaan Divan.
Kedalamannya menunggu para pencari kebenaran menyelaminya.

Beberapa pilihan yang dimuat di sini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *